Fakta Menyentuh di Balik Lagu Chrisye ‘Ketika Tangan dan Kaki Berkata’
FYI - Hai guys! Hai tau gak, fakta di balik lagu “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” tuh bukan sekadar kisah musik biasa — tapi ada sentuhan iman, kehidupan, dan pengingat soal hari akhir yang bikin bulu kuduk merinding banget.
Lagu itu dirilis pada tahun 1997 sebagai salah satu track dalam album Kala Cinta Menggoda, dengan melodi dari Chrisye dan lirik ditulis oleh Taufiq Ismail.
Menurut Wikipedia.
Chrisye, si penyanyi legendaris Indonesia, telah meninggal dunia pada 30 Maret 2007 setelah berjuang melawan kanker paru‑paru — meninggalkan karya yang terus dikenang sampai sekarang.
Sementara itu, Taufiq Ismail, sang sastrawan yang menulis lirik lagu ini berdasarkan inspirasi ayat suci, masih hidup dan tetap dikenal sebagai salah satu penyair besar Indonesia.
Begitu juga Erwin Gutawa, yang mengaransemen dan memproduseri lagu ini bersama Chrisye, masih aktif berkarya di dunia musik Indonesia sampai sekarang.
Menurut Wikipedia
Chrisye sendiri meminta Taufiq menulis lirik setelah punya melodi yang ingin ia jadikan lagu religius — tetapi Taufiq sempat buntu ide berminggu‑minggu hingga akhirnya menemukan inspirasi saat membaca Surah Yasin ayat 65 yang berbicara tentang Hari Pengadilan Akhir.
Ayat itu berbunyi tentang saat tangan dan kaki akan bersaksi tentang apa yang telah dilakukan seseorang di dunia — tema yang kemudian menjadi inti lirik lagu ini.
Reaksi Chrisye begitu emosional karena makna itu bukan sekadar religius — itu soal realitas akhirat dan hari akhir hayat semua manusia, sesuatu yang menyentuh batin paling dalam.
Sumber : islampos.com
Menurut cerita di balik rekaman, Chrisye sering menangis berkali‑kali ketika mencoba menyanyikan lagu ini di kamar dan di studio, karena liriknya sangat menyayat hati dan penuh makna spiritual.
Proses rekaman itu dikenal sulit — ia hanya bisa menyelesaikan satu take sambil terharu, karena setelah itu ia tidak sanggup lagi bernyanyi tanpa meneteskan air mata.
Istri Chrisye, Yanti Noor, bahkan sampai ikut berdoa dan memberi semangat sang suami saat itu, karena Chrisye merasa terhantui oleh pesan lagu yang dalam tentang hari akhir tersebut.
Dan meskipun Chrisye sudah meninggal — lagu ini terus hidup, sering diputar ulang, dan dibawakan kembali oleh musisi lain sebagai pengingat kuat tentang iman, tanggung jawab hidup, dan akhir hayat.
Bahwa sang pencipta lirik masih hidup, sang pengatur musik masih berkarya, tetapi yang menyanyikan karya itu kini telah pergi… hal itu membawa rasa kontras emosional yang dalam: tentang fana dan abadi, hidup dan mati.
Pesan lagu ini pun jadi semacam wake‑up call bagi kita semua — kita gak pernah tahu umur kita sampai kapan… dan suatu saat tangan dan kaki kita jugalah yang akan bersaksi atas apa yang telah kita lakukan.
Jadi bukan cuma lagu religius biasa — “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” adalah pengingat spiritual kuat tentang akhir hidup dan realitas hari akhir yang tetap menghentak hati sampai sekarang.
